MY THOUGHTS

How to Find Solution in Marriage Life

Hi everyone…

masih di kategori yang sama yaitu “My Thoughts”, kali ini gue mau sharing pemikiran gue tentang gimana caranya mencari solusi saat kita tengah bertengkar dengan pasangan kita di dunia pernikahan.

Well, sebelum gue panjang lebar ngejelasin perihal ini. Gue jelasin dulu kalau opini yang gue buat dalam topik ini berdasarkan pemikiran gue dan pandangan gue dari sebagai wanita dan gue harap bisa jadi pencerahan buat pasangan-pasangan muda di luar sana yang bakal jadi istri ataupun udah jadi istri. Kalau yang udah experience sih ga usah diraguin lagi lah yaaa hahahha

Oke, mostly diantara gue dan kalian yang membaca tulisan ini adalah orang-orang yang berada di generasi yang gak jauh beda. Kurang lebih juga berumur 23-29 lah, dan gue yakin most of you pasti udah ada yang menikah di usia yang terbilang dini ini. Sebagai pasangan yang menikah muda, harusnya kita sadari bahwa kelabilan itu masih menjadi masalah di usia kita. Hal ini juga yang berpengaruh dalam setiap hal dan keputusan yang kita buat. Emosi yang belom stabil pun juga seringkali jadi faktor pemicu di kalangan pasangan yang menikah muda. Di topik What I Think About Marriage sebelumnya gue udah pernah bilang kalau Pernikahan itu kayak efek domino, once you decide something maka keputusan itu bakalan berimbas pula buat sekitar kalian. Berbeda dengan pacaran yang kalau kita gak suka, kita bisa bilang putus. Tapi, kalau menikah lo gak suka lo ga bisa sembarang bilang minta cerai kan? Ditambah lagi kalau menikah itu, masalah kalian cukup kalian berdua yang tahu. Kecuali, kalau masalah yang kalian hadapi ini memang udah ga bisa diselesain cuma dari kedua belah pihak aja. Tapi, seringkali gue dengar kalimat “masalah yang lo alami itu banyak diluar sana yang mengalami lebih dari itu”. Gue agak gak setuju sama statement ini, karena gue yakin setiap pernikahan memang ujiannya berbeda-beda dan setiap wanita punya standart capable-nya masing-masing dalam mengahadapi masalah yang mereka alami.

Jadi, menurut gue dalam menikah masalah itu kalau dijalani bisa jadi susah susah gampang dan gampang-gampang susah. Kenapa? Menikah gue rasa susah-susah gampang disaat masalah yang dihadapi itu harus diselesaiin dengan harus membawa pihak ketiga untuk nyeleseinnya (pihak ketiga disini yang gue maksud adalah orang tua atau orang yang dituakan). Dan menikah gue rasa gampang gampang susah saat gue rasa masalah yang gue hadepin itu perihal sikap, pemikiran ataupun cara pandang yang gak sejalan dari masing-masing pribadi pasangan.

Banyak kepala pasti beda juga pemikirannya. Itu yang harusnya kita sadarin dulu kalau menghadapi masalah yang berawal dikarenakan sikap, pemikiran atau cara pandang yang berbeda. Kalau kasusnya cuma karna hal ini, gue yakin semua bisa diatasi baik-baik dengan cara yang baik juga. Sebelumnya, pahami dulu karakter pasanganmu sebelum mencari cara untuk meredam masalah kalian. Mostly, cowo (suami) ini dasarnya gengsian alias agak gamau ngalah kalau lagi salah. Padahal, kita tahu asal muasal masalah ini dikarenakan sikap si suami yang menurut kita gak sesuai lah. Nah, kalau yang kalian temui adalah pasangan yang begini caranya, pahamin dulu sikapnya lalu coba cari celah untuk mencairkan masalahnya. Misal; (si Suami ini terlalu sering main game online yang berimbas jadi lupa waktu dan lupa kalau ada hal lain yang lebih penting dari game online. Nah, sebagai istri pastinya bakalan gondok dong, coba deh untuk kalian mau dulu untuk masuk ke dunianya. Semacam minta ajarin main game online tsb lah atau kalian dukung yang jadi hobynya itu. Kalau udah masuk nih ke duniannya, baru deh kita bisa ambil hatinya dan ajak ngobrol baik-baik yang buat mereka sadar kalau apa yang mereka jadiin hoby itu gak selalu baik untuk hubungan kalian. Sesekali boleh, tapi kalau sampe lupa waktu kan sama aja kayak nikah sendiri, gak tuh?

Bebeda dengan kasus diatas, kalau yang kalian alami ini adalah masalah yang udah melanggar komitmen dari yang kalian buat bersama atau bahkan sampai melanggar aturan-aturan agama (seperti selingkuh atau berzina). Kalian kudu banget menghadirkan pihak ketiga sebagai “jembatan” untuk menyelamatkan pernikahan kalian. Kalau gak salah hal ini biasanya disebut dengan Mediasi (pengertian lebihnya kalian bisa googling ya). Memang betul ga ada masalah yang gak ada solusinya. Banyak orang pun yang bilang kalau ujian pernikahan itu 6 tahun di awal pernikahan. Well, kalau menurut gue memang setiap ujian yang ada itu pasti bertujuan untuk menambah iman kita dan membuat kita jadi “naik kelas”. Tapi, kalau kalian bisa meminimalisir dari 6 tahun itu jadi cuma 2 tahun aja kan bukannya lebih baik, Nah, sebelumnya kalian harus pahami dulu masalah apa yang tengah kalian alami, kalau masalah yang dialami cuma perihal sikap-sikap yang gak sesuai kemauan kalian. Gue yakin perihal itu masih bisa dibenahi. Tapi, kalau yang kalian hadapi adalah masalah komitmen yang dilanggar dikarenakan si Suami nyeleweng misalnya, kalian kudu bersikap lapang dan siap mental akan hal ini.

Gue rasa setiap orang pasti ingin menikah sekali seumur hidup dan memang betul gak ada pernikahan yang jalannya mulus-mulus aja. Tapi, kalau kalian hadapin masalah seperti ini lebih dari 3x gue rasa kalian berhak untuk memilih jalur berpisah. Gue disini gak menghimbau kalian para istri untuk pro akan “jalan perpisahan” adalah jalan terbaik dalam menghadapi kasus seperti ini ya. Tapi, perlu diingat sebagai manusia wanita pun punya hak untuk disayang dan dihargai selayaknya wanita seharusnya. Kalau pasangan kalian melakukan kesalahan tersebut ini baru sekali dan pasangan kalian mau berusaha untuk membenahi masalah tersebut. Mereka berhak mendapatkan kesempatan kedua. Kenapa? seperti yang gue bilang tadi, gak ada pernikahan yang jalannya mulus. Bahkan gue percaya akan hal itu. Nah, kalau di kesempatan kedua mereka masih khilaf berbuat kesalahan lagi. Sebagai istri pun baiknya kita toleransi dan kasih kesempatan lagi. Tapi, ingat! tidak untuk ketiga kali dan seterusnya. Lalu, kenapa gue bilang baiknya kesempatan itu dikasih sebanyak dua kali? kenapa gak cuma sekali dan kalau diulang lagi kita baiknya pisah aja? Gengs, manusia itu tempatnya khilaf. Hari ini boleh pasangan kalian yang berbuat salah, tapi siapa tahu kalo besok si istri yang khilaf dan berbuat salah?

Nah, kenapa gue bilang ga ada kesempatan ketiga ataupun seterusnya. Menurut gue, kesalahan yang sama dan diulang-ulang itu udah bukan masalah biasa. Melainkan “penyakit” dari pasangan kita, “penyakit” yang gue maksud disini adalah Tabiat. Dan menurut gue Tabiat itu adalah sikap yang udah mendarah daging dan ga bisa diubah lagi gimanapun keadaaannya. Kalau udah begini ceritanya, ya pisah adalah solusi terbaiknya. Toh kalian masih muda, masih bisa berkarya dan wujudin impian yang belum tercapai sebelumnya. Perlu diingat lagi, sayang boleh tapi bego jangan! Memang betul pisah adalah hal yang paling dibenci sama Allah. Tapi, sebagai manusia wanita pun punya hak nya untuk dibahagiakan selayaknaya wanita pada umumnya.

Jadi kesimpulannya, menurut gue menyelesaikan masalah dalam bahtera rumah tangga. Sebagai istri kita pun harus pandai menempatkan diri kita dalam setiap “peran”nya sebelum memutuskan sesuatu yang berimbas bagi sekitar kita juga. Sekali lagi, ingeti! Pernikahan itu sama halnya kayak efek domino. Once you decide something yang lainnya akan ikut merasakan. Jadi,  harus sadar dan paham dulu apa bentuk masalah yang lagi kita hadapi. Bersikap lapang selapangnya dan kuat mental dalam menghadapinya. Jangan lupa juga untuk selalu mengandalkan Allah disetiap masalah kita.  Gak ada masalah yang gak ada solusinya. Kalau masih bisa diperbaiki, kenapa tidak toh?

Happy Reading Gengs………………

semoga opini dan saran dari gue tentang topik ini cukup berfaedah buat kalian yang lagi cari pencerahan hahah

Jangan lupa buat komen, pendapat kalian ya. Cause, i would love to know 😀

One Comment

  • Mustafa

    A blunt commentary on social marriages, the failures, causes and solution thereof. These are the real issues based on facts which is being faced by today’s generation in their 20s. Hats off to the writer for the great effort, seems to have been keenly observed in our complex social behaviors in a male dominant society aka Eastern Society. My best wishes, a lota appreciation and love for the Author.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *